Kulafaurasyidin "Abu Ubaidah dan Basyir ibn Saad"

Abu Ubaidah dan Basyir ibn Saad


Suasana yang memuncak tegang itu cepat diatasi oleh dua tokoh, yaitu Abu Ubaidah ibn Jarrah dari pihak Al Muhajirin dan Basyir ibn Saad dari pihak Al Anshar.

Abu Ubaidah ibn Jarrah maju ke depan. Pembawaannya dan sikapnya yang menimbulkan hormat bagi siapapun, menyebabkan suasana reda kembali. Iapun berkata: ’’Sahabat-sahabatku dari kalangan Al Anshar! Kamu adalah pihak yang pertama-tama menyokong dan membantu. Janganlah kamu menjadi pihak yang pertama-tama berobah dan berganti pendirian.”

Pidatonya itu singkat akan tetapi menusuk hulu hati para pendengarnya. Semuanya terdiam dan menekurkan kepala. Pada saat itulah Basyir ibn Saad ibn Tsalaba ibn Jallas, termasuk tokoh utama di dalam sukubesar Khazraj, maju ke depan dan berkata:

’’Saudara-saudaraku, kalangan Al Anshar! Kita semuanya, demi Allah, memperoleh kedudukan termulia dan paling pertama di dalam ber-Jihad terhadap kaum Musyrikin, dan terdahulu di dalam Agama. Semuanya itu kita lakukan, tidak lain tidak bukan, mengharapkan ridha-Ilahi dan tunduk kepada Nabi kita dan kehormatan diri kita. Maka tidaklah layak bagi kita mempersoalkan sejcaliannya itu.”

’’Bukankah Muhammad itu dari sukubesar Kurais. Justru kaumnya lebih berhak dan layak memegang pimpinan. Demi Allah, saya sendiri.akan tidak membantahnya dalam persoalan itu. Marilah kita sama ber-Taqwa kepada Allah. Janganlah kita saling berbantah dan bertengkar.”

Pendirian yang diucapkan itu merupakan suasana segar. Diucapkan oleh tokoh utama di dalam lingkungan sukubesar Khazraj sendiri.

Abubakar mengatasi suasana


Suasana baru yang segar itu telah dipergunakan sebaik-baik-nya oleh Abubakar Al Shiddiq. Iapun maju ke depan dan berkata: ’’Marilah kita semuanya kini memusatkan perhatian kepada dua tokoh dan silahkan pilih, yaitu Umar ibn Khattab ataupun Abu Ubaidah ibn Jarrah.”

Pada saat itulah Basyir ibn Saad dan Abu Ubaidah ibn Jarrah, dengan sikap yang spontan, terdengar berteriak: ’’Mana mungkin hal itu! Demi Allah, kami akan tidak menyerahkan pimpinan kecuali kepadamu. Engkau adalah tokoh termulia dalam kalangan Al Muhajirin dan Tsaniu-ltsnain di dalam Gua bersama Rasul Allah, dan pengganti Rasul Allah di dalam imamat-Shalat. Shalat itu sendi Agama paling utama. Lantas, siapakah mampu membelakangimu dan siapakah yang lebih layak daripadamu?! Silahkan ulurkan tanganmu dan kami akan mengangkat Bai’at terhadapmu.”

Keduanya maju ke depan Abubakar, menjabat tangannya dan mengucapkan Bai’at, disusuli oleh Umar ibn Khattab.

Tindakan Basyir ibn Saad Al Anshari itu, tokoh utama di kalangan Al Anshar, bagaikan pancaran arus listrik terhadap tokoh tokoh Al Anshar saat itu dan bagi pihak Awwam. Sekaliannya, dengan sikap spontan dan saling desak berdesak, maju ke depan menjabat tangan Abubakar Al Shiddiq dan mengangkat Bai’at.

Di dalam suasana yang hiruk-pikuk dan saling berdesakan itu, demikian Tarikh-al-Thabari, sekaliannya telah lupa kepada Saad ibn Ubadah. Ia dihindarkan puteranya dari pembaringannya supaya jangan terpijak dan dipapahnya kembali menuju rumah.

Orang banyak itu dengan beramai-ramai mengarak Abubakar Al Shiddiq menuju Masjid Nabawi. Berlangsung kembali Bai’at secara lebih umum. Sehabis itu baharulah perhatian tertuju kembali kepada jenazah Nabi Besar Muhammad.

Pemakaman Nabi Besar Muhammad

Nabi Besar Muhammad dimakamkan pada petang Selasa malam Rabu. Semenjak hari Senin sampai hari Selasa itu tidak henti-hentinya rombongan yang datang ber-ziarah dan harus diberikan kesempatan.

Rombongan paling pertama, sehabis Bai’at Umum itu ialah rombongan Abubakar Al Shiddiq. Mengingat ruang rumah Ummul-Mukminin Aisyah itu amat terbatas maka harus masuk silih beiganti. Diceritakan bahwa setiap rombongan itu langsung melakukan shalat-Jenazah, tanpa menunjuk dan mengangkat Imam, tetapi bersifat sendiri-sendiri. Akan tetapi pada saat Abubakar Al Shiddiq mengangkat tangan dan membaca Doa maka semuanya lantas meng-aminkan.

Demikian berlangsung semenjak harij^nin sampai hari Selasa. Bermula rombongan-rombongan lelaki, disysuli rombongan-rombongan wanita, dan kemudian rombongan-rombongan remaja.

Jenazah Nabi Besar Muhammad dimandikan dan dikafani, sebelum rombongan ziarah itu berlangsung, oleh pihak keluarga terdekat. Ia dimandikan dengan mengenakan gamisnya, yakni baju luarnya. Abbas ibn Abdil-Muthalib dan kedua puteranya, fadhal dan Qutsam, membolak dan membalikkan tubuh Nabi. Usamah ibn Zaid beserta Suqran, seorang maula Nabi, menuangkan air. Ali ibn Abithalib menggosok tubuh Nabi. Air diangkutkan oleh

Auss ibn Khauli dari sebuah telaga kepunyaan Saad ibn Khaitsma, terletak di Qubak. Kemudian dikafani dengan tiga lembar kain putih, tenunan Yaman.

Pada saat'pemakaman akan berlangsung pada petang Selasa malam Rabu itu timbul soal tentang tumpak makam bagi beliau, sedangkan lokasi pemakaman umum adalah di Baqik.

Pada saat itulah Abubakar Al Shiddiq berkata bahwa dia pernah mendengar sabda-Nabi, berbunyi: ’’Tidak pernah seorang Nabi itu mati kecuali dikebumikan pada tempat dia menghembuskan nafasnya.” (Ma-mata Nabiyyun qattun illa Yudfanu haitsu Tuqbadhu Ruhu-hu). Pernyataan Abubakar Al Shiddiq itu dikukuhkan oleh Ali ibn Abithalib.


Justru, rumah kediaman Ummul-Mukminin Aisyah itu lantas dijadikan makam Nabi, terletak pada sisi Masjid Nabawi. Tempat pembaringan beliau digeser dan digalilah pekuburan di situ, dilaksanakan oleh dua tokoh, yaitu Abu Ubaidah ibn Jarrah dan Abu Thulhah Al Anshari. Lobang lahad dibikin oleh Abu Thulhah, dialasinya dengan serban merah yang dikenakannya, lalu disirami tanah sejak dari hulu sampai hunjuran oleh Bilal ibn Rabbah. Yang turun ke dalam pekuburan itu bagi menyambut jenazah Nabi Besar Muhammad adalah Ali ibn Abithalib, beserta Fadhal dan Qutsam, putera Abbas ibn Abdil-Muthalib, dibantu Suqran beserta Auss ibn Khauli Al Anshari.

Khotbah Khalif Abubakar Al Shiddiq

Menjelang shalat-Isya, yang berlangsung setelah selesai pemakaman Nabi Besar Muhammad itu, lantas Abubakar Al Shiddiq naik ke atas Mimbar dalam Masjid Nabawi itu dan mengucapkan Khotbah yang pertama di dalam kedudukannya sebagai Khalif, yakni pengganti-Rasul.

Khotbah jabatan itu singkat akan tetapi amat tercatat di dalam Sejarah, berbunyi:
Hai orang banyak seumumnya.

Aku diangkat mengepalai kamu
Dan aku bukanlah terbaik di antara kamu.
Jika aku membikin kebaikan Maka sokonglah daku.
Jika aku membikin kejelekan maka betulkanlah daku.
Kebenaran itu suatu amanat Dan kebohongan itu suatu khianat.
Yang terlemah di antara kamu aku anggap terkuat sampai aku mengambil dan memulangkan haknya.


Yang terkuat di antara kamu aku anggap terlemah sampai aku mengambil hak si lemah dari tangannya.
Janganlah seorangpun di antara kamu meninggalkan Jihad. Kaum yang meninggalkan Jihad akan ditimpakan kehinaan oleh Tuhan.
Patuhilah daku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Bila daku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya tiada kewajiban patuh bagi kamu terhadap daku.
Kini, marilah kita menunaikan Shalat.
Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada kamu.


Khotbah jabatan itu amat singkat akan tetapi mencerminkan garis-dasar yang teramat baru di dalam sejarah Kemanusiaan. Pada saat kaisar-kaisar imperium Roma dewasa itu memiliki wewenang dan kekuasaan absolit yang tiada terbatas, dan begitu-pun khosru-khosru imperium Parsi dengan wewenang dan kekuasaan absolit, maka Khalif Abubakar di dalam kebijaksanaan pemerintahan yang akan dijalankannya itu menggariskan kerakyatan yang betul-betul mumi. Sekaliannya itu sebagai pelaksanaan prinsip-prinsip di dalam agama Islam.